Hari Sabtu aku
berniat untuk melaju ke Tobelo. Sepulang mengajar rencananya. Kangen juga aku
dengan jaringan HSPA itu. Tak gampang menempuh kota Tobelo. Satu-satunya
transportasi murah menuju ke sana adalah bus Damri. Cukup mengeluarkan kocek
sebanyak 25 sampai 30ribu untuk sampai ke terminal Tobelo. Sayang, busnya hanya
beroperasi di pagi hari. Mau tak mau harus menaiki mobil Avanza yang
bertarifkan 50ribu. Bagaimana dengan hari Minggu? Jarang mobil beroperasi di
hari Minggu karena merupakan hari ibadah. Kecuali “Avanza Islam”. Kata teman
galon satu rumahku, Hasnidar Dadde.
Masalah SARA masih
sensitif di Halmahera Utara, terutama di desa-desanya, terkhusus di Kao Barat.
Desa Islam dan Kristen terpisah. Desa Islam mayoritas dianut oleh warga
transmigrasi yang terdiri dari orang Jawa dan Bugis, sedang Desa Kristen dihuni
oleh orang-orang asli. Banyak peristiwa-peristiwa pembunuhan di sini yang
dihubung-hubungkan oleh unsure SARA. Tapi untung, masih banyak warga yang Islam
atau Kristen yang bersikap dewasa. Hingga tak menimbulkan peperangan atau
kerusuhan oleh para provokator yang tak bertanggung jawab.
Sekarang masih hari
Rabu saat tulisan ini aku buat. Tiga hari bukan penantian yang berarti. Aku masih
belum menjadi manusia yang cukup bijak dalam menjalani hidup ini. Aku butuh
internet, aku butuh Social Media. Aku juga ingin berleha-leha di atas tempat
tidur sambil menelepon sanak saudara di kota besar atau mantan sahabat
sepenanggungan yang sekarang memilih jalan masing-masing. Dan kalau jadi, ini
akan menjadi petualangan backpacker ku seorang diri di kota orang yang punya
budaya berbeda.
Mudah-mudahan ada
Avanza Islam nantinya di Hari Minggu, saat aku pulang kembali ke Desa Makarti.
Dan mudah-mudahan, Avanza Islam lah yang nantinya kutumpangi menuju ke Tobelo
hari Sabtu kelak. Mudah-mudahan…
0 comments:
Posting Komentar