Hidupku terlanjur bergantung pada
internet. Ada suatu titik di Desa Toliwang yang bisa menangkap signal internet.
Itu pun masih jaringan Edge. Harus menempuh berpuluh kilometer untuk menempuh
tempat tersebut. Termasuk desa penduduk asli yang dimana babi-babi berkeliaran
bak ayam atau kucing. Jaringannya pun kadang ada dan tak memuaskan. Cuma untuk sekedar
memeriksa pemberitahuan Facebook, masih bolehlah. Tapi untuk membuka
pemberitahuan tersebut, harus bersabar tingkat dewa. Apalagi searching di
Google, hentikan imajinasi itu!!!
Sempat iri dengan teman-teman yang
berada di bagian utara Halmahera Utara yang bisa menikmati signal, maupun
jaringan internet HSPA+ tanpa harus menempuh berkilo-kilometer lamanya . Hanya
leha-leha di atas tempat tidur, bisa menelpon sambil berinternet ria di atas
kasur yang empuk. Tak apalah. Mungkin ini cara Allah untuk membuatku lebih
hemat dengan tak terpengaruh oleh paket internetan Telkomsel.
Sial, di sini aku harus hidup
bersama, satu atap dengan dua galon. Tak ada tubuh semampai atau bayangan gitar
Spanyol yang menambah indahnya pemandangan di pagi, siang ataupun malam hari.
Hanya dua angka nol, ditambah dengan diriku yang juga menambah satu angka nol
besar. Setidaknya, tak ada korban bully yang menyinggung ukuran tubuh di sini.
Kami bahagia dengan kondisi yang begini. Cukuplah 3G yang ada di
Kao Barat. Tiga Galon maksudnya…
Puskesmas Pembantu atau yang lebih
dikenal dengan singkatan Pustu. Begitulah kira-kira julukan bangunan ini
sebelum kami tinggali. Entah sudah berapa lama Pustu ini vakum ditinggal oleh
para petugas kesehatannya. Sewaktu kami tiba, ada banyak gambar-gambar atau
tulisan-tulisan di tembok hasil karya manusia tak bertanggung jawab. Jaring laba-laba
maupun sarang serangga Nampak di seluruh sudut ruangan. Untunglah, ada Kepsek
dari masing-masing sekolah penempatan kami yang ikut membantu maupun
mendekorasi bangunan yang akan menjadi tempat tinggal selama setahun. Serta
beberapa guru dan siswa yang dengan semangat hingga akhir penyelesaian.
Kami hanya tiga di kecamatan yang
luas ini. Mengajar dengan berbeda sekolah, satu sekolah satu guru SM-3T. Cukup
berat memang, namun bayang-bayang semboyan “Maju Bersama Mencerdaskan
Indonesia” atau “ Berjuang atau Pulang Saja” menambah semangat pengabdian kami
untuk Indonesia. Semoga itu cepat tertanam di dalam hati kami, walau tidak
100%. Setidaknya berusaha dan terus berusaha bisa membuat persen itu menjadi
sempurna. Cukup doa kalian yang senantiasa tulus mencintai kami yang kami
harap. Tak ada yang berharga selain itu. Semoga ini bisa menjadikan kami dewasa
dan lebih hebat kedepannya. Aamiin.
0 comments:
Posting Komentar