Minggu, 23 Agustus 2015

Tragedi di Bandara

Sultan Babullah Ternate. Akhirnya pesawat milik Garuda Indonesia landing juga di bandara kecintaan Ternate ini setelah sebagian besar kaum 'the first time' menderita sakit telinga yang begitu menyerikan di dalam pesawat akibat perubahan tekanan udara. Padahal trik untuk mengatasi sakit telinga ini hanya dengan menutup hidung saat mulai menaiki pesawat *info menurut teman setelah bercengkerama mengenai tragedi sakit telinga yang terjadi di pesawat tadi.

Senyum semangat mulai mengudara di tanah yang masyarakat mayoritas Islam ini. Bangga, pastinya. Tak pernah terbayangkan kalau tubuh yang sempat kurus ini bisa berdiri sebagai peserta 'Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal' di salah satu daerah bersejarah di Indonesia ini.

Perjalanan kami tidak terhenti di Ternate. Untuk menuju ke Halmahera Utara, harus menggunakan  Speed Boat yang kurang lebih memakan waktu 45 menit. Dan untuk mencapai labuhan Speed Boat tersebut, para 'the first time' harus menempuh perjalanan darat sekitar 15 menit.

Ups, tunggu dulu. Sebelum menuju perjalanan darat menuju labuhan Speed Boat, ada cerita menarik yang menimpa salah satu peserta SM-3T di dalam bandara waktu pengambilan barang di bagasi. Setelah menunggu sekian menit barang yang berjalan tersebut, ternyata Tas Career yang berisi baju-baju selama setahun di rantauan HILANG alias tas tersebut tak ada di antrian  trotoar barang berjalan tersebut. HaHaHa... Yang lebih lucunya lagi, pemilik tas itu adalah saya sendiri. WkWkWk...

Mengecek keseluruhan barang ke sana kemari, ternyata barangnya tidak ada juga. Pihak bandara tak percaya akan kejadian ini dan menyuruh kembali mengecek barang ke singgah sana. Hasilnya sama. Aku pun galau tak terhingga, sampai-sampai mata-mata kasian mengarah kepadaku. Aku semakin galau dan tertekan oleh kumpulan sepasang mata tersebut. Aku tak membutuhkan itu. Aku hanya butuh Doraemon yang mungkin akan dikirimkan Allah kepadaku melihat nasib hambaNya yang begitu kasihan. Dimana Doraemon, dimana??? Aku butuh alat-alat canggih tidak masuk akalmu. Di sinu manusia hanya bisa bertanya dan menatap kasihan, tak ada yang bisa dikeluarkan dari kantongnya selain permen yang selama beberapa jam menetap pengap di dalam kantongnya.

Akupun dibawa ke sebuah ruangan untuk dimintai keterangan. Dasar Korkab (Kordinator Kabupaten) yang sangat bertanggung jawab. Ia pun mendampingi di dalam ruangan. Hati lega disertai kepala yang hampir membludak ria oleh bayang-bayang tas yang tak kunjung ketahuan keberadaannya meski waktu telah berlangsung beberapa menit.

Tak jua mendapat info, pihak bandara mempersilahkan kami untuk melanjutkan perjalanan darat dan akan memberikan info tentang keberadaan tas secepatnya melalui telepon seluler atau handphone atau yang lebih akrab disebut HP atau yang dalam Kamus Bahasa Besar Indonesia yang baik dan benar berarti Telepon Genggam, paling lambat 2 minggu. Namun pihak bandara akan bekerja maksimal untuk menginfokan dalam 3 hari ini.

Aku dan sang Korkab yang sangat bertanggung jawab ini pun berjalan menuju mobil yang telah menunggu di depan bandara untuk menuju labuhan Speed Boat menuju pulau seberang, yaitu Pelabuhan Sofifi, Halmahera Utara.

Selama perjalanan di Ternate, kami sangat menikmati pemandangan sana sini dari jendela mobil yang terbuka lebar. Bersih dan mulus. Kondisi kotanya sangat teratur dan rindang. Malah jalanannya lebih mulus dari kota sebesar dan seberkembang Makassar. Hanya mungkin cuaca panasnya sebelas dua belas dengan Makassar.

Kurang lebih 15 menit berlalu. Teman-teman dan barang-barang telah sampai duluan di labuhan Speed Boat. Aku pun turun dari mobil dan menjadi pusat perhatian oleh teman-teman yang menatap kasihan. Aku berusaha menjadi ceria oleh kondisi yang sangat memprihatinkan ini. Aku harus berusaha seceria mungkin. Aku tak tahan dengan tatapan yang sangat menekan ini.

Tak lama bercengkerama dengan teman-teman di tepi labuhan, ada orang yang dari LSM mengajak kami makan di sekitar labuhan. Ada banyak tempat makan di sini. Kami pun tak ragu akan suguhan warung makan di sini oleh sebab masyarakat di Ternate mayoritas Islam.

Di warung makan, teman-teman masih menaruh hilangnya tas sebagai trending topic terhangat. Aku hanya menjawab seadanya disertai sedikit tawa paksa untuk menyembunyikan rasa galau yang teramat besar. Meski dalam hati mengatakan, "Hentikan semua ini, PLEASE!!!"

Acara makannya telah usai. Seorang dari LSM itupun memanggil untuk menuju Speed Boat yang telah dipersiapkan. Speed Boatnya tak seperti dibayangan. Pakai atap dan dalamnya lumayan luas dan memanjang daripada Speed Boat yang berada di tepian laut di Makassar menuju Pulau Samalona. Kami dengan perut kekenyangan menyambut riang tanpa keluhan apapun. Pikiran galau mengenai tas itupun mulai terkikis sudah oleh serunya perjalanan menggunakan Speed Boat ini.

0 comments:

Posting Komentar